Rabu, 27 Mei 2020

on

Perusahaan Hampir Kolaps, Nasabah Kesulitan untuk Mengajukan Klaim Premi Produk Konvensional

Industri asuransi menjadi bagian dari sektor keuangan yang turut menggerakkan perekonomian, melalui fungsi pengalihan resiko. Pada hakikatnya asuransi menawarkan proteksi kepada pemegang polis, berupa jaminan kesehatan dan jiwa.  Awal mula asuransi di Indonesia lahir dari konsep riba yang dibawa oleh pemerintahan Hindia Belanda. Seiring berjalannya waktu ternyata asuransi konvensional membawa dampak buruk untuk nasabah #AwaliDenganKebaikan.

Perusahaan Asuransi Terbesar Sulit Cairkan Klaim
Salah satu perusahaan asuransi terbesar di Indonesia baru-baru ini mengalami kolaps, yang membuatnya tidak bisa mencairkan dana nasabah. Pada awal berdirinya perusahaan pernah berkomitmen untuk melayani resiko, yang terjadi kepada nasabahnya. Namun seiring berjalannya waktu perusahaan tidak bisa memenuhi janji yang dibuat untuk nasabah. Perusahaan kesulitan untuk mencairkan klaim dari produk asuransi syariah, yang diajukan oleh nasabah.

Cerita ini berawal dari salah satu pemegang polis bernama Rudi, yang hendak melakukan klaim asuransi pendidikan. Pada tahun 2012 Rudi ditawari oleh petugas asuransi yang merupakan adik sepupunya. Ia diberikan tawaran premi asuransi pendidikan dengan pembayaran premi 100 ribu per bulan. Kala itu Ia mengikutkan anaknya yang masih berusia 5 tahun, dengan harapan ada cover biaya pendidikan sampai si anak tamat SMA.


Tahun pertama klaim saat sang anak masuk Sekolah Dasar, perusahaan masih membayarkan klaim sesuai perjanjian. Namun pada tahun 2018 Rudi terpaksa menghentikan pembayaran karena terkendala masalah ekonomi. Alhasil satu-satunya pilihan ialah melepaskan polis asuransi yang sempat Ia ikuti selama 7 tahun. Satu hal yang Rudi tahu saat itu perusahaan sedang mengalami kolaps, karena asuransi konvensional sedang tidak sehat.

Rudi menjabarkan perusahaan asuransi saat itu tidak bisa mencairkan klaim, karena ada instruksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Pihak OJK menangguhkan perusahaan asuransi bahwa tidak boleh mencairkan dana nasabah, untuk menjaga likuiditas sejak September 2018. Pihak perusahaan pun tidak tahu sampai kapan dana klaim tersebut tidak bisa dicairkan. Akhirnya Rudi hanya bisa menunggu kabar baik dari perusahaan dan juga pihak OJK.

Melihat kondisi perusahaan asuransi yang tidak sehat Rudi berencana menghentikan kedua polisnya. Selain karena kondisi keuangan rumah tangga yang sedang tidak baik, Ia tidak ingin berlarut pada masalah asuransi lagi. Rudi mengaku rugi sempat tergiur oleh tawaran produk asuransi konvensional, pasalnya Ia sudah membayar premi setiap bulan dan baru mendapat klaim satu kali. Saat akan mengajukan klaim kembali ternyata perusahaan asuransi sedang di ujung kolaps.

Beralih Proteksi Syariah Agar Lebih Terjamin
Ditengah kegalauan Rudi terhadap asuransi seorang teman menawarkan untuk beralih ke asuransi syariah. Konsep asuransinya menawarkan resiko yang dibagi antar peserta, dan dilakukan dengan cara Tabarru’. Dana yang dikumpulkan ini menjadi milik nasabah murni bukan milik perusahaan asuransi. Disini perusahaan berperan sebagai pemegang amanah dalam mengelola dana peserta.

Dari beberapa penjelasan tentang produk asuransi syariah Rudi mengambil kesimpulan, bahwa tidak ada namanya uang pertanggungan. Rudi tetap bisa melakukan perlindungan jiwa dan resiko terjadi kecelakaan, serta ada perlindungan untuk biaya kesehatan. Istimewanya surplus keuntungan dibagi dengan ketentuan 60 persen saldo Tabarru’, 30 persen nasabah, dan 10 persen untuk pengelola.

Perusahaan asuransi memang pernah booming pada masanya, karena dianggap sebagai proteksi nomer satu untuk masyarakat. Kala itu asuransi sempat menyumbang perekonomian Indonesia, untuk dana pembangunan. Namun kabar perusahaan asuransi banyak yang kolaps justru menumbangkan masa kejayaannya. Kemudian masyarakat mulai beralih ke asuransi syariah Indonesia, yang tidak mempunyai unsur riba.
Allianz Blog Contest

0 komentar:

Posting Komentar